Sabtu, Desember 24, 2011

Talk about Virginity

Saya bergabung di sebuah grup ala perempuan di sebuah situs jejaring sosial. Isinya, ya bisa ditebaklah.. Semua tentang perempuan dewasa yang sok dewasa tepatnya. Yap! tentang asmara, karir dan tentunya tentang masalah seksual. Bukan jorok, dan mungkin masih tabu dikalangan bayak perempuan, tapi kita coba bahas semua ini ala perempuan dan secara ilmiah tentunya. Tujuannya supaya kita dapat ilmu yang berguna yang bisa kita aplikasikan saat kita masuk ke tahap lebih dewasa lagi alias, menikah :)

Ada pembicaraan menarik yang sengaja dibuat thread oleh seorang teman. Dia menanyakan bagaimana pendapat kita tentang Virginity. Hmm.. menarik bukan? Untuk saya virginity itu adalah hal yang wajib banget di jaga. Ibaratnya, kita sedang menjaga benda terbaik kita untuk orang yang terbaik untuk kita. Simple tapi esensi banget kan? hihi..

Coba kita intip beberapa komen dari temen-teman yang lain..

Kalo kata I, "Bagian dari spiritualitas. Suatu kontradiktif yang mahasuper. Simbol cinta. Meskipun Mrs. V terlihat 'receiving' sebetulnya virginitas adalah 'giving' seutuhnya". Aih.. suka banget sama komen ini.

Dan ditimpalin sama M dengan komen seperti ini "It's mean, hmm.. our precious moment with our precious man, and our precious commitment of sharing pleasure" Wew.. i love that words "Sharing Pleasure" haha..

Yang lainnya bilang virginity adalah simbol cinta tertinggi, komitmen dsb.. Hmm.. menarik sekali :)

Apa virginty menurutmu? jadi penasaran apa kata laki-laki tentang ini. haha..

Selasa, Desember 13, 2011

Berteman dengan Anang




Beteman dengan hewan semacam ini bukan karena tidak punya teman sejenis manusia. Tapi kadang-kadang manusia butuh sentuhan-sentuhan makhluk tak punya dosa seperti binatang ini, agar terasah kasih sayangnya, terasah cinta sesamanya. Agar tak pandang bulu dalam memberi kasih. Tak pernah dengki pada sesama seperti mereka.

Kamis, Desember 08, 2011

Random

Menghadapi episode-episode hidup ini. Kadang senang, kadang sedih, semuanya lumrah saja terjadi. Semua orang seperti duduk di bianglala, kadang diatas, kadang dibawah. Wajar jika saat saya senang, ada yang sedih, begitu sebaliknya. Ini hidup, semua orang punya peran yang harus diperankan. Antagonis juga protagonis. Ada yang punya tujuan tertentu tapi di tempat lain ada yang menghancurkannya. Kadang saya protagonis, tapi lebih sering jadi antagonis *ngomong apa sih?

Sedang bicara apa saya ini?

Saya sedang memerankan perang antagonis untuk hidup seseorang yang melibatkan bayak orang didalamnya. Saya mencoba bermain-main dengan keadaan yang seharusnya bukan lagi jadi area bermain saya. Mencoba menggagalkan satu misi lalu "cengengesan" pura-pura tidak bersalah *I-ni-a-pa?

Saya penjahat, terlebih saya itu pengecut!

Ini bukan drama sembarang drama. Saya bilang ini drama karena memang seperti drama. Alur ceritanya berbelit tak berujung, berkelumit, setiap terlihat ujungnya pasti akan bergerak menggulung lagi. Tak pernah habis! Dan saya pertegas, saya adalah pemeran antagonisnya. Harusnya, semua penonton membenci saya, dan sudah saya terima itu. Saya patut dibenci! Saya cuma penjahat dalam drama ini.

Besok-besok saya mau jadi sutradaranya, boleh?

#random -__________-!

Senin, Oktober 31, 2011

Blinded

Saya stop diri saya untuk berbicara hanya tentang saya. Saya sadar, saya tidak punya apapun kecuali yang saya miliki saat ini, itupun titipan yang tak banyak.

Saya stop diri saya untuk men-recall semua kejadian itu. Hal-hal yang membuat saya muak dan merasa terlanjur berdosa menjadi diri saya.

Saya semakin ingin meninggalkan tempat ini dan beralih ke tempat yang jauh. Jauh dari pandangan siapapun. Dari kacamata saya ataupun dari kacamata mereka. Saya sedang tidak ingin kami saling melihat.

Saya stop diri saya untuk berhenti merasakan sentuhan-sentuhan itu. Menutupnya dengan hal-hal yang bisa membuatnya mati rasa, seperti hilang.

Saya mencoba membuat mata ini lebih lama terpejam. Coba menghalangi pandangan saya dengan apa yang akan terjadi nanti. Saya takut dunia berputar tidak sesuai dengan harapan saya.

Saya merasa sangat egois saat ini.

Tuhan, saya pernah mengucap doa, Kau mengabulkan dan saya telah salah mengucap doa. Lalu boleh saya ralat kembali doa saya?

Saya hanya ingin pergi jauh..jauh..jauh.. Tak terlihat lagi.